Salam welcome

News

Sabtu, 13 April 2013

Peran Guru BK: Merebaknya Seks Bebas di Kalangan SMP



A.      Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia selalu terjadi perkembangan zaman. Perkembangan zaman tersebut mempengaruhi nilai-nilai sosial yang merupakan bagian dari masyarakat. Nilai-nilai   social yang terpengaruh oleh perkembangan zaman tersebut meyebabkan perubahan sosial. Pada saat ini bukan hanya perkembangan zaman saja yang mempengaruhi perubahan sosial tetapi globalisasi juga turut campur dalam mempengaruhi proses perubahan sosial tersebut. Globalisasi yang memiliki dua sisi mata pisau yang berbeda, ada yang positif dan negatif. Jika masyarakat belum siap untuk menerima globalisasi secara bijaksana maka tidak menutup kemungkinan masyarakat akan menerima dampak negatif dari globalisasi. Globalisasi yang masuk kedalam negeri kita ini telah ditumpangi oleh budaya-budaya barat yang belum tentu sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia pada saat ini belum dapat menyaring budaya-budaya yang masuk dari luar, sehingga banyak masyarakat kita yang terpengaruh oleh budaya pendatang yang kebanyakan berasal dari barat. Sebagai contoh kebudayaan  free sex itu tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa Indonesia.
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang mengkuatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain, yang dapat menyebabkan terjangkitnya suatu penyakit, misalnya HIV/AIDS.
Sikap pemerintah dalam menangani seks bebas sangat membutuhkan perhatian masyarakat, karena tanpa campur tangan keduanya sungguh tidakakan tercapai apa yang kita inginkan. Salah satu contoh di Kota Sintang khususnya remaja masih dalam pembaharuan kebebasan yang disalah artikan. Banyak remaja yang terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan dan kebanyakan terpengaruh dari lingkungan luar yang merusak generasi muda karena rasa ingin gaul walaupun mereka sudah salah jalan. Oleh karena itu, para remaja harus banyak mendapat bimbingan para guru dan orang tua. Karena zaman yang sudah semakin maju remaja sangat mudah terpengaruh oleh hal-hal yang baru apalagi dengan perubahan-perubahan remaja. Zaman sekarang para remaja sudah banyak terjerumus dalam seks bebas. Seperti yang termuat dalam surat kabar KendariNews.com
KENDARINEWS.COM (Banjarmasin); Pergaulan bebas di kalangan remaja di Banjarmasin semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, tercatat ada 148 kasus seks pranikah selama tahun 2011. Yang lebih parah lagi, mayoritas dari kasus tersebut ternyata dialami siswi SMP. Data Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin juga menyebutkan bahwa selain seks pranikah ada juga kasus infeksi saluran reproduksi sebanyak 30 kasus. Kasus lainnya yakni infeksi menular seksual (IMS) juga ada sebanyak 30 kasus sedangkan kasus kehamilan tidak diinginkan atau di luar nikah sebanyak 220 kasus.
Data juga menunjukkan bahwa ada 325 kasus persalinan remaja baik karena menikah di usia dini maupun di luar nikah. Kasus tertinggi ada di Kecamatan Banjarmasin Selatan, khususnya  dialami siswi SMP. Menanggapi data mencengangkan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel Dr Rosihan Adhani menyatakan bahwa fakta tersebut harus diwaspadai khususnya dalam rangka menjaga remaja dari ancaman penyakit kesehatan reproduksi.
“Adanya data tersebut wajib diperhatikan oleh jajaran kesehatan, dengan adanya data tersebut artinya memang isu bahwa pergaulan remaja semakin memprihatinkan benar adanya,” katanya kepada Radar Banjarmasin, Senin (1/10). Diterangkan Rosihan, maraknya seks pranikah di kalangan remaja harus disikapi oleh jajaran kesehatan dengan memberikan layanan konseling kesehatan. Materi konseling berupa kesehatan reproduksi dan bahaya penyakit akibat hubungan seks yang tidak semestinya harus diberikan.
“Saya prihatin ternyata pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi sangat minim. Indikasinya adalah hasil riset kesehatan dasar ternyata remaja yang mengetahui tentang kesehatan reproduksi hanya 11 persen, sisanya tidak tahu,” cetusnya.
Menurut peraih gelar doktor dari Universitas 17 Agustus 1945 ini, lemahnya pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi akan berkolerasi dengan tingginya akan seks pra nikah. Remaja banyak yang tidak tahu bahaya berhubungan seks sembarangan.
“Kami pernah usulkan adanya muatan lokal kesehatan di sekolah tapi dari dinas pendidikan tidak sepakat,” terangnya. Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel Dr Ngadimun mengaku prihatin atas fakta tersebut. Meski demikian, ia tidak sepakat dengan usulan Rosihan agar kesehatan masuk kurikulum muatan lokal.
“Kalau semua permasalahan dititipkan kurikulum saya kira akan membebani siswa. Misalnya masalah korupsi ada kurikulum anti korupsi, ada masalah narkoba kemudian diusulkan masuk ke kurikulum, kan tidak bisa demikian, masih ada solusi lain seperti memperkuat mata pelajaran yang menyangkut budi pekerti,” ucapnya.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar bekalang maka kami merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa yang mempengaruhi terjadinya seks bebas pada anak SMP tersebut?
2.      Bagaiman peran guru BK dalam menangani terjadinya seks bebas di kalangan anak SMP?

C.      Pembahasan
1.        Hal-hal  yang Mempengaruhi Terjadinya Seks Bebas pada Anak SMP
Di zaman sekarang pacaran bukanlah hal yang dianggap tabu. Pola berpacaran anak sekolah pun ada yamg sudah menjerumus ke arah budaya free sex (seks bebas). Seks bebas pelajar yang dulunya hanya pada jenjang perkuliahan dan SMA sekarang sudah merambah ke tingkat SMP. Pelajar tentu mengetahui apa itu seks. Namun pengetahuan mereka tentang seks hanya sekedar tahu saja namun tidak dapat memahaminya mendalam apa seks itu sesungguhnya. Mereka menganggap bahwa seks merupakan sebuah kebutuhan yang wajar bagi mereka. Pada saat ini banyak dari para pelajar yang melakukan hubungan seks bebas tanpa mengetahui akan dari dampak yang dilakukannya. Itu semua tidak dapat terlepas dari pengaruh oleh prilaku hal negatif yang di karenakan hal–hal yang bersifat pornografi seperti melihat orang berpakaian seksi dan pengaruh dari menonton film yang bersifat porno. Hal–hal tersebut mengakibatkan suatu keinginan dari seorang anak untuk melakukan hal–hal yang menjerumus ke arah perilaku free sex. Seperti halnya pada zaman sekarang banyak anak sekolah yang harus drop out dari sekolah hanya karena hamil di luar nikah.  Sehingga siswa yang seharusnya memiliki masa depan yang cerah, dapat sirnah masa depannya hanya karena perbuatan asusila tersebut. Berikut merupakan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya seks bebas di kalangan SMP yang sudah dianggap biasa, antara lain:

1.        Diri Sendiri
Dalam konteks ini seks bebas anak SMP terjadi dikarenakan pengaruh yang timbul dari diri seorang pelajar itu sendiri adanya suatu dorongan untuk mengetahui akan hal hal yang belum mereka ketahui. Pada usia itu mereka selalu ingin mencoba hal–hal yang baru yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan. Para pelajar juga memiliki sifat untuk bereksperimen dan melakukan tantangan. Tidak hanya itu sifat pelajar anak SMP yang dewasa sebelum waktunya yang masih meledak–ledak dan kadang tidak terkendali menyebabkan mereka tidak berfikir panjang dalam melakukan suatu hal. Sehingga anak SMP sering melakukan hal sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

2.        Lingkungan Keluarga
Peran sebuah keluarga dalam mengontrol perilaku pelajar sangatlah berpengaruh besar dalam proses pembentukan karakter seorang siswa. Sebagai lingkup sosial terkecil, sudah sepatutnya keluarga memberikan perhatian pada para pelajar tersebut. Dalam perkembangannya, anak-anak membutuhkan perhatian yang penuh dari kedua orang tuanya. Namun pada realitanya, karena kesibukan orang tua, terkadang orang tua lupa dengan kuantitas dan kualitas waktu mereka bersama anak-anak. Orang tua hanya hadir secara fisik, tapi tidak secara spiritual dan emosi. Maka yang terjadi pada anak-anak yang seperti itu, mereka akan mencari kasih sayang dan perhatian dari lingkungan luar. Entah dari teman yang akhirnya dijadikan pacar, narkoba, pergaulan bebas, dan akhirnya terjerumus pada seks di luar nikah. Mereka beranggapan dengan berbuat seenaknya seperti itu mereka bisa melupakan semua hal yang terjadi di keluarga.

3.        Luar Lingkungan
Faktor Luar Lingkungan yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan seks bebas, terdiri akan 2 faktor yakni :
a.        Faktor dari Teman
Faktor teman juga memungkinkan seseorang untuk melakukan seks bebas. Karena ada kalanya seorang pelajar menganggap bahwa temannya yang paling mengerti akan dirinya daripada keluarganya. Beruntung bagi seorang pelajar yang memiliki teman seorang penuntun ke arah yang lebih baik, baik dari akademis maupun moralnya. Akan tetapi jika seorang pelajar tersebut mendapatkan teman yang tidak baik. Hal ini bisa saja menjerumuskan pelajar tersebut kearah yang tidak baik. Bahkan sering di temukan seorang teman yang memeng sengaja menjerumuskan ke arah yang negatif.
b.        Faktor dari sekolah
Walau dasarnya sekolah merupakan tempat untuk belajar untuk mendapatkan suatu ilmu yang bermanfaat kelak, namun bukan berarti sekolah tidak berperan dalam membentuk karakter seorang siswa untuk dapat dipengaruhi. Sebagai contoh gaya berpacaran anak SMP sekarang tidak malu lagi bergandengan di tempat umum. Hal ini juga diperparah dengan gaya berpakaian para guru guru muda yang seolah sengaja memakai pakaian yang minim seperti rok yang ketat atau berpakaian seksi. Fenomena itu menambah seorang pelajar untuk dapat melakukan hubungan seks bebas dikarenakan setiap hari disuguhi akan pemandangan seperti itu.

4.        Faktor Teknologi dan Budaya Asing
Arus informasi dan teknologi yang tidak terkendali turut memberikan dampak negatif terhadap perkembangan seorang pelajar. Gelombag arus informasi dari berbagai media, tak dapat dibendung oleh anak-anak. Termasuk yang berkaitan dengan pornografi. Dari data yang dimiliki Yayasan Kita dan Buah Hati, anak-anak terpapar pornografi dari berbagai media di sekitar mereka : komik, games, hp, internet, film TV, VCD/DVD, majalah, dan koran dengan prosentase yang berbeda-beda dan mirisnya media-media itu adalah yang dekat dunia anak-anak. Orang tua sering lalai dalam menjaga anak-anak dari media-media yang seharusnya tidak menjadi konsumsi mereka. Orang tua hanya membelikan fasiltas, namun tidak memberikan pengarahan yang tepat dan pengawasan. Anak dibiarkan berselancar bersama media itu, tanpa kita menyadari bahaya besar sedang mengancam mereka.
Seharusnya dengan kemajuan teknologi akan memberikan manfaat yang berguna untuk pelajar. Dengan kemajuan teknologi pengaruh akan budaya asingpun berpengaruh besar merubah karakter seorang pelajar. Cara berpakaian budaya barat yang seksi seorang menjadi sebuah tren yang di senangi oleh anak anak remaja zaman sekarang. Akibatanya timbul rasa ingin melakukan hal hal negatif ketika seseorang melihat hal hal tersebut di sekitar kita. Anggapan melakukan seks bebas di kalangan pelajar sudah semakin mengkhawatirkan sudah sepatutnya kita sebagai manusia yang memiliki moral dan berbudaya ketimur-timuran haruslah memiliki moral yang baik sehingga tidak terjerumus ke arah budaya seks bebas.  

2.        Peran guru BK dalam Mengatasi Terjadinya Seks Bebas dikalangan SMP
1.        Bimbingan Pendidikan Seks
Kesadaran dari para remaja untuk tidak mendekat maupun melakukan seks bebas adalah tindakan yang sangat mungkin dilakukan untuk dapat menghindari seks bebas dikalangan remaja. Konseling bagi remaja mengenai pendidikan seks adalah yang paling mungkin dilakukan, terutama kepada para pelajar disekolah-sekolah. Pendidikan seks diberikan agar siswa mengenali dan meminimalkan seks bebas.
Selama ini pendidikan seks dianggap tabu, karena asumsi yang beredar dikalangan publik adalah bahwa pendidikan seks sama dengan sosialisasi aktivitas seks dan identitas seks. Padahal sesungguhnya apabila para remaja mengetahui apa esensi sebenarnya dari pendididkan seks itu yang mancakup tentang pengetahuan genital, pemahaman mengenai organ-organ tubuh mana yang boleh dilihat atau tidak, bagaimana cara menjaga kesehatan organ reproduksi, dan sejauh mana batasan-batasan bergaul dengan teman lawan jenis,serta resiko apa yang mungkin dapat terjadi apabila melakukan seks bebas, maka para remaja tidak akan berani untuk mencoba melakukan seks bebas.
Bimbingan pendidikan seks yang diberikan dapat disampaikan di sekolah oleh guru bimbingan dan konseling dan dapat bekerjasama dengan guru mata orang tua, dan dinas kesehatan. Materi pendidikan seks dapat berupa :
a.        Kesehatan Reproduksi
Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja diatas memerlukan suatu upaya pengembangan program pendidikan kesehatan reproduksi remaja yang dapat mencakup penyediaan pelayanan klinis, pemberian informasi akurat, mempertimbangkan kemampuan dan sisi kehidupan remaja, menjamin program yang cocok atau relevan dengan remaja serta utamanya mendapat dukungan masyarakat. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja (KRR) berbasis sekolah merupakan salah satu alternatif strategi yang tepat karena bisa mencakup semua permasalahan kesehatan reproduksi remaja. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja (KRR) yang dilakukan oleh sekolah merupakan salah satu upaya untuk membimbing remaja mengatasi konflik seksualnya. Oleh berbagai pihak, sekolah dan guru dianggap sebagai pihak yang layak memberikan pendidikan KRR ini. Pendidikan KRR untuk memberikan bekal pengetahuan kepada remaja mengenai anatomi dan fisiologi reproduksi, proses perkembangan janin, dan berbagai permasalahan reproduksi pengembangan perilaku reproduksi sehat untuk menyiapkan diri melaksanakan fungsi reproduksi yangg sehat (fisik, mental, ekonomi, spiritual). Pendidikan KRR dapat diwujudkan dalam penyuluhan, bimbingan dan konseling, pencegahan, penanganan masalah yang berkaitan dg KRR termasuk upaya mencegah masalah perinatal yang dapat dialami oleh ibu dan anak yang dapat berdampak pada anggota keluarga lainnya. Seperti kehamilan, PMS, HIV/AIDS, KTD dan dampaknya, serta pengembangan perilaku reproduksi sehat untuk menyiapkan diri melaksanakan fungsi reproduksi yg sehat (fisik, mental, ekonomi, spiritual). Pendidikan KRR dapat diwujudkan dalam penyuluhan, bimbingan dan konseling, pencegahan, penanganan masalah yang berkaitan dengan KRR termasuk upaya mencegah masalah perinatal yang dapat dialami oleh ibu dan anak yang dapat berdampak pada anggota keluarga lainnya.
b.        Bahaya Seks Bebas
Hal selanjutnya yang dapat disampaikan oleh pihak sekolah yakni adalah konseling mengenai bahaya seks bebas, konseling bahaya seks bebas dapat disampaikan oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor bekerjasama dengan guru biologi ataupihak departemen kesehatan. Dalam penyampaian materi bahaya seks bebas dapat juga dijelaskan mengenai penyakit yang ditimbulkan akibat seks bebas, antara lain : Herpes Genital, Sifilis (Penyakit Raja Singa), Gonore (Kencing Nanah), HIV/AIDS, Kanker Serviks (leher rahim), dll. Dengan disampaikannya materi penyakit akibat seks bebas siswa diharapkan bias memahami dan menghindari seks bebas karena menimbulkan sakit yang bermacam-macam. Guru bimbingan dan koseling memiliki peran yang besar dalam konseling kesehatan tersebut, penyampaian materi bahaya seks bebas dapat juga disampaikan dalam pendidikan seks.

2.        Referal Kasus
Sebelum konseling dilakukan, guru bimbingan dan konseling terlebih dahulu menggali informasi tentang konseli, melalui wawancara dengan guru, teman-teman dekatnya, dan orang tua. Guru bimbingan dan konseling bekerjasama dengan pihak yang terkait seperti orang tua dan guru, sebelumnya siswa diberi pengertian (bagi yang sudah terlanjut hamil) agar siswa tidak depresi dan jangan bunuh diri, karena banyak kasus siswa bunuh diri karena kasus seks bebas. Bimbingan terhadap siswa yang telah hamil akibat seks bebas juga bertujuan untuk pencegahan aborsi.


3.        Menerima pertanyaan dan memberi jawaban yang tepat
Seorang guru BK harus memperkaya diri dengan pengetahuan dan informasi tentang seks yang benar, dan ketika siswa mengajukan pertanyaan, harus didengar dan dipahami motif di balik pertanyaan anak itu, mengklarifikasi masalah dari anak, serta memberi jawaban yang sederhana dan tepat. Misalkan, ketika memberi bimbingan yang berkaitan dengan alat kelamin harus menggunakan istilah yang benar seperti 'penis' dan jangan menggunakan istilah 'burung' atau lainnya sebagai pengganti. Biarkan anak mengenal istilah yang benar sejak dini. Ketika memberikan bimbingan dan menjawab pertanyaan, sikap harus rileks dan wajar, jangan membiarkan perasaan dan nada suara tegang mempengaruhi anak. Menjelaskan tentang seks juga tidak perlu secara eksklusif. Itu bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Apabila anak tiba-tiba bertanya tentang seks, maka detik itu juga konselor harus segera menjawabnya agar anak tidak menyimpulkan bahwa seks adalah sesuatu yang patut dirahasiakan tetapi sebaliknya seks merupakan sesuatu yang lumrah dan merupakan bagian dari hidupnya.

C.      Kesimpulan
Peran guru bimbingan dan konseling dalam menangani kasus seks bebas harus bekerjasama dengan pihak-pihak yang terkait antara lain sekolah, orang tua, dan teman-teman dekat konseli. Guru bimbingan dan konseling tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi kasus seks bebas yang dialami oleh siswa SMP. Guru bimbingan dan konseling dapat angket minat bakat siswa untuk membuat kegiatan ekstrakulikuler dengan bekerjasama dengan pihak sekolah, sehingga energy yang dimiliki oleh siswa dapat disalurkan secara positif melalui kegiatan ekstrakulikuler yang disediakan sekolah. Guru bimbingan dan konseling harus berperan aktif dalam pencegahan dengan sosialisali pendidikan seks.



Daftar Pustaka









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar